Tradisi Ngagurah Dano merupakan kegiatan menangkap ikan bersama di perairan Sungai Cidano saat musim kemarau. Tradisi itu sudah dilakukan masyarakat Kabupaten Serang bagian barat turun temurun dari nenek moyang mereka.

ABDUL ROZAK – SERANG

Pagi itu, Minggu (5/8), sekira pukul 09.00 WIB, suasana di perbatasan Cagar Alam Rawa Dano tidak seperti biasanya. Ribuan masyarakat terlihat berbondong-bondong mendatangi aliran Sungai Cidano yang berada di perbatasan Desa Rancasanggal, Kecamatan Padarincang, dan Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka.

Warga terlihat bersemangat, dengan mencangking peralatan alat tangkap ikan tradisional berupa samber, sair, dan jala. Warga silih berdatangan kemudian berbaris di tepi aliran Sungai Cidano. Warga terlihat antusias seperti akan mengikuti pesta rakyat. Ditambah lagi, kondisi cuaca yang cerah seolah-olah mendukung aktivitas warga.

Kedatangan ribuan warga itu ingin mengikuti tradisi Ngagurah Dano. Yakni, kegiatan menangkap ikan bersama di aliran Sungai Cidano pada musim kemarau. Kegiatan itu rutin dilakukan setiap tahun oleh masyarakat empat kecamatan, yakni Kecamatan Cinangka, Padarincang, Ciomas, dan Mancak.

Keramaian warga makin menjadi-jadi setelah kedatangan Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan Wakil Bupati Pandji Tirtayasa beserta jajaran pejabat Pemkab Serang.

Tatu datang dari arah Kecamatan Padarincang yang kemudian menyeberangi jembatan gantung Cidano menuju Desa Cikolelet Kecamatan Cinangka. Tatu beserta pejabat Pemkab lainnya kemudian duduk di bawah tenda mini. Seremonial acara Ngagurah Dano pun dimulai. Warga bersorak-sorak memanggil pemimpin daerahnya.

Setelah melakukan pembukaan acara, Tatu langsung berjalan mengarah ke aliran sungai, Tatu langsung terjun ke dasar sungai dengan membawa peralatan tangkap ikan. Pejabat Pemkab lainnya mengikuti Tatu dari belakang. Kemudian seluruh warga dipanggil untuk ikut turun bergabung mencari ikan. Suasana pun pecah, pejabat dan warga berebut mencari ikan di Sungai Cidano.

“Biasanya ada ikan mas, nilem, gabus, nila, lendi,” kata Kepala Desa Cikolelet Ojat Darojat usai mendampingi Tatu.

Kata Ojat, Ngagurah Dano merupakan tradisi turun temurun nenek moyang. Kegiatan itu mencerminkan kebersamaan masyarakat dan mengamalkan menangkap ikan dengan menjaga lingkungan. “Karena pakai alat seadanya, seperti samber, sair, jala,” ujarnya.

Ngagurah Dano juga bisa disebut sebagai ajang pesta rakyat. Hasil tangkapan ikan biasanya dimakan bersama dengan tradisi bancakan di kampung halaman masing-masing. Ngagurah Dano biasa diikuti oleh masyarakat Kecamatan Cinangka, Padarincang, Ciomas, dan Mancak.

“Ini menggambarkan kebersamaan, ajang silaturahmi masyarakat empat kecamatan,” ujar Wakil Sekretaris Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Kabupaten Serang itu.

Setelah menangkap ikan, pukul 13.00 WIB, Tatu bersama rombongan bancakan di bawah tenda yang sudah disiapkan panitia. Pada event itu, panitia juga menyiapkan hadiah bagi warga yang menangkap ikan paling banyak dengan timbangan yang sudah disediakan.

Tatu mengatakan, Ngagurah Dano akan dijadikan agenda wisata kebudayaan tahunan. Yakni, disatukan pada agenda Anyer Krakatau Culture Festival (AKCF). Tatu berharap, event tersebut dapat menggerakkan roda perekonomian masyarakat. “Saya berharap akan menjadi daya tarik wisatawan luar daerah,” katanya.

Ibu tiga anak itu berjanji akan mengerahkan jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) untuk mengalokasikan program pembangunan di lokasi Ngagurah Dano. Hal itu untuk menunjang sarana prasarana lokasi wisata.

“Tempat wisata itu juga kan harus didukung oleh sarana prasarana yang memadai. Selain itu, saya juga minta masyarakat untuk menyambut kedatangan tamu dengan ramah dan menjaga kebersihan,” imbaunya.

Keramaian warga tidak surut setelah Tatu dan jajaran pejabat Pemkab pulang. Warga terus berdatangan dan kompak terjun ke dasar Sungai Cidano untuk mencari ikan hingga sore hari. Kata seorang warga, musim kemarau menjadi kesempatan bagi warga untuk mencari ikan di Sungai Cidano karena air sungai menjadi surut sehingga memudahkan terjun ke dasar sungai. (*)

Komentar